LISTINGNUSANTARA.COM,BONE— Dugaan penyalahgunaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Bio Solar kembali menjadi sorotan di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Selain Andi W dan AnDg, kali ini juga seorang pria berinisial EDY yang disebut-sebut berasal dari Desa Ureng, Kecamatan Palakka, diduga juga terlibat dalam aktivitas pengumpulan dan penjualan kembali BBM bersubsidi.
Dugaan tersebut mencuat setelah adanya informasi dari masyarakat yang menyebut aktivitas pengumpulan solar bersubsidi berlangsung di wilayah Desa Ureng. BBM yang diduga dikumpulkan dari sejumlah pelangsir tersebut kemudian disebut disimpan di sebuah lokasi sebelum dibawa keluar daerah.
Informasi ini menambah panjang sorotan terhadap dugaan praktik penyalahgunaan BBM bersubsidi di Kabupaten Bone. Sebab, BBM bersubsidi yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat yang memenuhi ketentuan justru diduga dimanfaatkan untuk kepentingan perdagangan kembali.
Di sisi lain, kelompok masyarakat seperti nelayan yang membutuhkan BBM untuk menjalankan aktivitas sehari-hari disebut masih menghadapi berbagai persoalan dalam memperoleh BBM bersubsidi. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai pengawasan distribusi BBM bersubsidi di tingkat lapangan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun , EDY disebut menjalankan aktivitas dengan cara mengumpulkan BBM jenis solar dari sejumlah pelangsir yang sebelumnya melakukan pengisian di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
BBM yang terkumpul kemudian diduga dibawa ke sebuah lokasi di Desa Ureng, Kecamatan Palakka. Dari informasi warga, lokasi tersebut diduga digunakan sebagai tempat penampungan sementara sebelum BBM dibawa menggunakan kendaraan untuk dikirim ke luar daerah.
Dari penelusuran yang dilakukan di lapangan, diperoleh informasi dari warga mengenai adanya lokasi yang disebut berkaitan dengan aktivitas penyimpanan BBM jenis solar.
Seorang warga yang ditemui mengungkapkan bahwa aktivitas EDY disebut telah lama diketahui oleh sebagian masyarakat.
“EDY ini memang kerjanya jual solar. Jadi dia mengambil dari beberapa pengepul kecil-kecilan yang biasa mengantri di SPBU, kemudian dia kumpul dan jual kembali,” ungkap warga tersebut.
Menurut sumber yang sama, aktivitas pengumpulan solar itu disebut tidak hanya dilakukan dalam jumlah kecil. BBM yang telah terkumpul disebut kemudian diambil menggunakan kendaraan pada malam hari.
“Solar yang terkumpul di lokasi biasanya ada mobil yang datang malam hari untuk mengambil. Informasinya kemudian dibawa keluar daerah,” ujarnya.
Warga lainnya mengaku bahwa dugaan aktivitas jual beli BBM bersubsidi tersebut bukan informasi yang baru beredar di lingkungan masyarakat.
Menurutnya, aktivitas tersebut bahkan disebut telah menjadi pembicaraan warga setempat. Namun, masyarakat memilih tidak banyak berbicara karena khawatir dengan konsekuensi yang mungkin timbul.
“Kalau kita di sini sudah lama tahu, tapi lebih baik diam. Karena seandainya EDY ini mau ditangkap, sudah lama karena mereka terang-terangan,” katanya.
Pernyataan warga tersebut menjadi salah satu alasan munculnya desakan agar aparat penegak hukum melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap dugaan penyalahgunaan BBM bersubsidi di wilayah tersebut.
sebelumnya,
pengepul yang Berinisial Andi W dan AnD untuk menyuplai kebutuhan PT. Katana Global untuk dijual harga industri dengan tujuan perusahaan Morowali.
Praktik tersebut diduga sudah berjalan 4 tahun tanpa tersentuh Aparat Penegak Hukum (APH) ini beroperasi dengan modus mengumpulkan solar dari nelayan Bajoe dan sopir truk tangki rakitan, untuk kemudian dikirim ke Wajo dan dijual ke Morowali.
Salah seorang warga yang pernah ikut melangsir BBM bersubsidi jenis solar mengatakan bahwa Andi W dan AnD diduga memainkan peran sebagai pengepul dan pengendali utama. Solar subsidi dikumpulkan dari beberapa nelayan yang berdomisili di Bajoe. Selain itu, ia juga diduga menampung dari sopir-sopir truk
“ Itu Andi W dan An D pemain lama, dia pengendalinya. Dia ambil solar dari nelayan Bajoe. Nelayan dapat jatah subsidi, tapi dijual ke dia. Ada juga dari sopir-sopir truk yang tangkinya sudah dimodifikasi,” Kata SA, Sabtu (18/09/2026)
Selain itu, ia menambahkan BBM solar yang terkumpul kemudian diangkut menggunakan dua mobil andalannya Grandmax warna silver dengan muatan 78 jerigen. Dan mobil Panther warna hitam muatan 50 jerigen dengan total 128 jerigen sekali jalan.
“Jika satu jerigen rata-rata berkapasitas 32 liter, maka sekali kirim Andi W diduga membawa kurang lebih 1,6 Ton lebih solar subsidi, untuk di jual keluar Bone “ Tambahnya.
Rute yang dilalui juga sudah terpetakan. Dari Bone, solar subsidi tersebut diantar ke penampung besar ini salah BB di wilayah Wajo.
“Selanjutnya BBM subsidi tersebut diantar ke pengumpul BB di daerah Wajo yang merupakan pemain besar yang menggunakan tangki industri diduga ilegal bermerek PT Katana Global Selanjutnya BBM tersebut dijual di Morowali dengan harga industri,” Tuturnya.
Bahkan, intensitas pengiriman bukan sekali seminggu, melainkan hampir tiap hari.
“Tiap hari itu mengantar solar subsidi. Kadang 5 ton ke daerah Wajo ke penampungan BB. Bayangkan bos, 5 ton tiap hari dikali 4 tahun, berapa negara dirugikan kemudian untungnya Dia berapa?” tegasnya.
Seorang sopir truk yang pernah terlibat dalam lingkaran tersebut juga membenarkan.
“Betul bos, saya pernah juga kasih barang itu AW dengan harga ya lumayan. Kalau Grandmax dan Panther itu memang yang selalu jemput kalau ada solar,” jelasnya.








